Jumat, 24 April 2015

Buku Property Syariah

Buku bagus bagi yang ingin memulai bisnis property Syariah,,
Bagaimana cara pemesanannya?
Cukup pesan dengan Format :
Ketik: Nama_Pesan Buku Property_Alamat Domisili_No.Hp
kirim SMS/WA ke nomor 085719510923

Dapatkan segera bukunya dengan harga Rp. 500.000,-  dari harga normalnya Rp. 800.000,
Anda hemat Rp. 300.000,-

Minggu, 22 Februari 2015

‘Generasi Abu Lahab’

Saat Ibrah ini ditulis, sebagian umat Islam masih merayakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. 1436 H dengan segala ekspresi kegembiraan dan rasa syukur. Namun, pada Bulan Maulid tahun ini pula, umat Islam di seluruh dunia, khususnya di negeri ini, sedang dilanda duka-lara sekaligus murka luar biasa. Pasalnya, Muhammad Rasulullah saw.—manusia suci, kekasih Allah SWT, sekaligus satu-satunya teladan utama yang amat dicintai oleh miliaran umat Islam di seluruh dunia—kembali dihinakan  dan dinistakan, lagi-lagi melalui karikatur murahan dan menjijikkan.

Betapa tidak! Charlie Hebdo, sebuah majalah satir di Prancis, secara berulang memuat karikatur Nabi Muhammad saw. dalam bentuk yang sangat merendahkan dan menistakan beliau. Wajar jika sekelompok orang yang tak terima kemudian melampiaskan kemarahannya dengan melakukan aksi pembunuhan terhadap sejumlah orang yang dianggap bertanggung jawab atas pemuatan kartun tersebut. Kasus pembunuhan itu kemudian sepontan menimbulkan reaksi internasional yang berlebihan, khususnya dari para pemimpin Barat.
Namun demikian, tulisan ini tak hendak membahas lebih jauh seputar kontroversi kasus Charlie Hebdo di atas. Tulisan ini hanya ingin mengajak setiap Muslim merenungkan dua pertanyaan saja:Pertama, jujurkah kita mencintai Baginda Rasulullah saw.? Kedua, tuluskah kita mengekspresikan kesedihan sekaligus kemarahan saat Baginda Rasulullah saw. dihinadinakan dan dinistakan?
*****
Terkait dua pertanyaan di atas, saya ingin mengutip sebuah riwayat dalam Shahih al-Bukhari. Disebutkan, suatu hari, Senin, Tsuwaibah datang kepada tuannya, Abu Lahab, seraya menyampaikan kabar tentang kelahiran bayi mungil bernama Muhammad, keponakan barunya. Mendengar itu Abu Lahab pun bersukacita. Ia kegirangan seraya meneriakkan kata-kata pujian sepanjang jalan. 
Sebagai bentuk luapan kegembiraan, ia segera mengundang para tetangga dan kerabat dekatnya untuk merayakan kelahiran keponakan tercintanya ini: bayi laki-laki yang mungil, lucu dan sempurna. Sebagai penanda sukacitanya, ia pun berkata kepada budaknya, Tsuwaibah, di hadapan khalayak ramai yang mendatangi undangan perayaan kelahiran keponakannya, “Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku (Muhammad), anak dari saudara laki-lakiku, Abdullah, maka kamu menjadi manusia merdeka mulai hari ini!”
Sayang, siapapun tahu, kelak Abu Lahab justru tampil menjadi salah satu musuh utama Nabi Muhammad saw. Ia mengingkari risalah kenabian beliau sekaligus menentang al-Quran yang beliau bawa. Karena itu sosoknya lalu dikecam dalam satu surat tersendiri dalam al-Quran, yakni surat Al-Masad.
Namun demikian, karena ekspresi kegembiraannya menyambut kelahiran Muhammad, Abu Lahab mendapatkan keringanan siksaan, yakni pada setiap hari Senin. As-Suyuthi berkata dalam Al-Hawy(I/196-197), “Saya melihat Imamul Qurra`, Al-Hafizh Syamsuddin Ibnul Jauzi, berkata dalam kitab beliau yang berjudul, Urf at-Ta’rif bi al-Mawlid asy-Syarif, dengan teks sebagai berikut: Telah diperlihatkan Abu Lahab setelah meninggalnya di dalam mimpi. Dikatakan kepada dia, “Bagaimana keadaanmu?” Dia menjawab, “(Aku) di dalam neraka. Hanya saja, diringankan atas diriku siksaan setiap malam Senin. Hal ini karena aku memerdekakan Tsuwaibah ketika dia menyampaikan kabar gembira kepadaku tentang kelahiran Muhammad dan karena dia telah menyusuinya.”
As-Suyuthi berkata, “Jika Abu Lahab yang kafir ini, yang telah dicela oleh al-Quran, diringankan siksaannya dengan sebab kegembiraannya karena kelahiran Nabi Muhammad saw., maka bagaimana lagi keadaan seorang Muslim dari kalangan umat beliau yang bertauhid, yang gembira dengan kelahiran beliau dan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam mencintai beliau?! Saya bersumpah, tidak ada balasan dari Allah Yang Maha Pemurah kecuali Dia akan memasukkannya ke dalam surga.”
Riwayat tentang Abu Lahab ini pun dicantumkan di dalam kitab Al-Barjanji yang terkenal, juga dinukil oleh Syaikh Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam risalahnya, Hawla al-Ihtifal bi al-Mawlid (hlm. 8). Riwayat ini kemudian dijadikan dalil oleh sebagian ulama  tentang keabsahan merayakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.
*****
Tentu menarik jika riwayat ini dikaitkan dengan realitas umat Islam hari ini. Banyak dari umat ini yang begitu antusias dengan Perayaan Kelahiran Nabi Muhammad saw. Namun, saat yang sama, sebagian dari mereka sering tak berbeda sikapnya dengan Abu Lahab: mengabaikan al-Quran yang dibawa oleh Nabi saw., mencampakkan syariahnya dan menolak hukum-hukumnya dengan berbagai alasan. Padahal bukankah demi al-Quran, syariah dan hukum-hukumnya, Nabi Muhammad saw. dilahirkan dan diutus? Jika demikian, sekali lagi kita layak bertanya kepada diri sendiri: Jujurkah kita mencintai Baginda Rasulullah saw.?
Di sisi lain, kita berduka sekaligus murka saat Baginda Rasulullah saw. dihinadinakan dan dinistakan. Namun, apakah kita juga berduka dan murka saat al-Quran sekian lama dicampakkan; saat syariahnya sekian lama tak dipedulikan; dan saat hukum-hukumnya sekian lama tak diterapkan? Padahal bukankah demi al-Quran, syariah dan hukum-hukumnya, Nabi Muhammad saw. rela mengorbankan harta, keluarga, bahkan jiwanya? Jika demikian, kita pun layak bertanya kepada diri sendiri: Tuluskah ekspresi kesedihan dan kemarahan kita saat Rasulullah saw. dihinadinakan dan dinistakan? Faktanya, kita pun telah mengecewakan beliau. Bahkan kita telah benar-benar menyakiti perasaan beliau hingga beliau menangis dan mengadu kepada Allah SWT: “Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Quran ini sebagai perkara yang diabaikan.” (TQS al-Furqan [25]: 30).
‘Ala kulli hal, semoga kita tak menjadi bagian dari ‘Generasi Abu Lahab’, yang hanya bersukacita atas kelahiran Nabi Muhammad saw., tetapi saat yang sama mengabaikan al-Quran, menolak syariahnya dan enggan diatur dengan hukum-hukumnya dalam naungan Khilafah ar-Rasyidah yang telah beliau wariskan kepada kita, umatnya.
Wa ma tawfiqi illa bilLah. [Arief B. Iskandar]

‘Generasi Abu Lahab’

Saat Ibrah ini ditulis, sebagian umat Islam masih merayakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. 1436 H dengan segala ekspresi kegembiraan dan rasa syukur. Namun, pada Bulan Maulid tahun ini pula, umat Islam di seluruh dunia, khususnya di negeri ini, sedang dilanda duka-lara sekaligus murka luar biasa. Pasalnya, Muhammad Rasulullah saw.—manusia suci, kekasih Allah SWT, sekaligus satu-satunya teladan utama yang amat dicintai oleh miliaran umat Islam di seluruh dunia—kembali dihinakan  dan dinistakan, lagi-lagi melalui karikatur murahan dan menjijikkan.

Betapa tidak! Charlie Hebdo, sebuah majalah satir di Prancis, secara berulang memuat karikatur Nabi Muhammad saw. dalam bentuk yang sangat merendahkan dan menistakan beliau. Wajar jika sekelompok orang yang tak terima kemudian melampiaskan kemarahannya dengan melakukan aksi pembunuhan terhadap sejumlah orang yang dianggap bertanggung jawab atas pemuatan kartun tersebut. Kasus pembunuhan itu kemudian sepontan menimbulkan reaksi internasional yang berlebihan, khususnya dari para pemimpin Barat.
Namun demikian, tulisan ini tak hendak membahas lebih jauh seputar kontroversi kasus Charlie Hebdo di atas. Tulisan ini hanya ingin mengajak setiap Muslim merenungkan dua pertanyaan saja:Pertama, jujurkah kita mencintai Baginda Rasulullah saw.? Kedua, tuluskah kita mengekspresikan kesedihan sekaligus kemarahan saat Baginda Rasulullah saw. dihinadinakan dan dinistakan?
*****
Terkait dua pertanyaan di atas, saya ingin mengutip sebuah riwayat dalam Shahih al-Bukhari. Disebutkan, suatu hari, Senin, Tsuwaibah datang kepada tuannya, Abu Lahab, seraya menyampaikan kabar tentang kelahiran bayi mungil bernama Muhammad, keponakan barunya. Mendengar itu Abu Lahab pun bersukacita. Ia kegirangan seraya meneriakkan kata-kata pujian sepanjang jalan. 
Sebagai bentuk luapan kegembiraan, ia segera mengundang para tetangga dan kerabat dekatnya untuk merayakan kelahiran keponakan tercintanya ini: bayi laki-laki yang mungil, lucu dan sempurna. Sebagai penanda sukacitanya, ia pun berkata kepada budaknya, Tsuwaibah, di hadapan khalayak ramai yang mendatangi undangan perayaan kelahiran keponakannya, “Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku (Muhammad), anak dari saudara laki-lakiku, Abdullah, maka kamu menjadi manusia merdeka mulai hari ini!”
Sayang, siapapun tahu, kelak Abu Lahab justru tampil menjadi salah satu musuh utama Nabi Muhammad saw. Ia mengingkari risalah kenabian beliau sekaligus menentang al-Quran yang beliau bawa. Karena itu sosoknya lalu dikecam dalam satu surat tersendiri dalam al-Quran, yakni surat Al-Masad.
Namun demikian, karena ekspresi kegembiraannya menyambut kelahiran Muhammad, Abu Lahab mendapatkan keringanan siksaan, yakni pada setiap hari Senin. As-Suyuthi berkata dalam Al-Hawy(I/196-197), “Saya melihat Imamul Qurra`, Al-Hafizh Syamsuddin Ibnul Jauzi, berkata dalam kitab beliau yang berjudul, Urf at-Ta’rif bi al-Mawlid asy-Syarif, dengan teks sebagai berikut: Telah diperlihatkan Abu Lahab setelah meninggalnya di dalam mimpi. Dikatakan kepada dia, “Bagaimana keadaanmu?” Dia menjawab, “(Aku) di dalam neraka. Hanya saja, diringankan atas diriku siksaan setiap malam Senin. Hal ini karena aku memerdekakan Tsuwaibah ketika dia menyampaikan kabar gembira kepadaku tentang kelahiran Muhammad dan karena dia telah menyusuinya.”
As-Suyuthi berkata, “Jika Abu Lahab yang kafir ini, yang telah dicela oleh al-Quran, diringankan siksaannya dengan sebab kegembiraannya karena kelahiran Nabi Muhammad saw., maka bagaimana lagi keadaan seorang Muslim dari kalangan umat beliau yang bertauhid, yang gembira dengan kelahiran beliau dan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam mencintai beliau?! Saya bersumpah, tidak ada balasan dari Allah Yang Maha Pemurah kecuali Dia akan memasukkannya ke dalam surga.”
Riwayat tentang Abu Lahab ini pun dicantumkan di dalam kitab Al-Barjanji yang terkenal, juga dinukil oleh Syaikh Muhammad bin Alwi al-Maliki dalam risalahnya, Hawla al-Ihtifal bi al-Mawlid (hlm. 8). Riwayat ini kemudian dijadikan dalil oleh sebagian ulama  tentang keabsahan merayakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.
*****
Tentu menarik jika riwayat ini dikaitkan dengan realitas umat Islam hari ini. Banyak dari umat ini yang begitu antusias dengan Perayaan Kelahiran Nabi Muhammad saw. Namun, saat yang sama, sebagian dari mereka sering tak berbeda sikapnya dengan Abu Lahab: mengabaikan al-Quran yang dibawa oleh Nabi saw., mencampakkan syariahnya dan menolak hukum-hukumnya dengan berbagai alasan. Padahal bukankah demi al-Quran, syariah dan hukum-hukumnya, Nabi Muhammad saw. dilahirkan dan diutus? Jika demikian, sekali lagi kita layak bertanya kepada diri sendiri: Jujurkah kita mencintai Baginda Rasulullah saw.?
Di sisi lain, kita berduka sekaligus murka saat Baginda Rasulullah saw. dihinadinakan dan dinistakan. Namun, apakah kita juga berduka dan murka saat al-Quran sekian lama dicampakkan; saat syariahnya sekian lama tak dipedulikan; dan saat hukum-hukumnya sekian lama tak diterapkan? Padahal bukankah demi al-Quran, syariah dan hukum-hukumnya, Nabi Muhammad saw. rela mengorbankan harta, keluarga, bahkan jiwanya? Jika demikian, kita pun layak bertanya kepada diri sendiri: Tuluskah ekspresi kesedihan dan kemarahan kita saat Rasulullah saw. dihinadinakan dan dinistakan? Faktanya, kita pun telah mengecewakan beliau. Bahkan kita telah benar-benar menyakiti perasaan beliau hingga beliau menangis dan mengadu kepada Allah SWT: “Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Quran ini sebagai perkara yang diabaikan.” (TQS al-Furqan [25]: 30).
‘Ala kulli hal, semoga kita tak menjadi bagian dari ‘Generasi Abu Lahab’, yang hanya bersukacita atas kelahiran Nabi Muhammad saw., tetapi saat yang sama mengabaikan al-Quran, menolak syariahnya dan enggan diatur dengan hukum-hukumnya dalam naungan Khilafah ar-Rasyidah yang telah beliau wariskan kepada kita, umatnya.
Wa ma tawfiqi illa bilLah. [Arief B. Iskandar]

Sabtu, 21 Februari 2015

Imlek Adalah Hari Raya Agama Kafir Bukan Sekedar Tradisi : Haram Atas Muslim Turut Merayakannya


Oleh : M. Shiddiq Al-Jawi
Anda mungkin pernah mendengar pernyataan begini. Bahwa ‪#‎Imlek‬ itu hanyalah tradisi dan bukan bagian ajaran agama tertentu.
Karenanya umat Islam khususnya yang beretnis Tionghoa boleh-boleh saja merayakan Imlek. Benarkah Imlek hanya tradisi? Apakah boleh muslim turut merayakan Imlek?
Tulisan ini berusaha untuk menjelaskan persoalan ini kepada umat Islam, dengan menelaah ajaran agama Khonhuchu, serta menelaah hukum syariah Islam yang terkait dengan keterlibatan kaum muslimin dalam perayaan hari raya agama lain.
Imlek Bagian Ajaran Agama Khonghucu, Bukan Sekedar Tradisi Tionghoa
Memang tak jarang kita dengar dari orang Tionghoa, termasuk tokoh-tokohnya yang sudah masuk Islam, bahwa Imlek itu sekedar tradisi. Tidak ada hubungannya dengan ajaran suatu agama, sehingga umat Islam boleh turut merayakannya. Sebagai contoh, Sekretaris Umum DPP PITI (Pembina Iman Tauhid Islam), H. Budi Setyagraha (Huan Ren Cong), pernah menyatakan bahwa Imlek adalah tradisi menyambut tahun baru penanggalan Cina, datangnya musim semi, dan musim tanam di daratan Cina. H. Budi Setyagraha berkata,”Imlek bukan perayaan agama.” (Lihat “Sekjen DPP PITI : Rayakan Imlek Jangan Berlebihan”, Kedaulatan Rakyat, Selasa, 13 Pebruari 2007, hal. 2).
Jika kita mendalami agama Khonghucu, khususnya mengenai hari-hari rayanya, akan terbukti bahwa pernyataan tersebut tidak benar. Sebab sebenarnya Imlek adalah bagian integral dari ajaran agama Khonghucu, bukan semata-mata tradisi.
Dalam bukunya Mengenal Hari Raya Konfusiani (Semarang : Effhar & Dahara Prize, 2003) hal. vi-vii, Hendrik Agus Winarso menyebutkan bahwa masyarakat kurang memahami Hari Raya Konfusiani. Kata beliau mencontohkan,”Misalnya Tahun Baru Imlek dianggap sebagai tradisi orang Tionghoa.” Dengan demikian, pandangan bahwa Imlek adalah sekedar tradisi, yang tidak ada hubungannya dengan agama, menurut penulis buku tersebut, adalah suatu kesalahpahaman (Ibid., hal. v).
Dalam buku yang diberi kata sambutan oleh Ketua MATAKIN tahun 2000 Hs. Tjhie Tjay Ing itu, pada hal. 58-62, Hendrik Agus Winarso telah membuktikan dengan meyakinkan bahwa Imlek adalah bagian ajaran Khonghucu. Hendrik Agus Winarso menerangkan, Tahun Baru Imlek atau disebut juga Sin Cia, merupakan momentum untuk memperbarui diri. Momentum ini, kata beliau, diisyaratkan dalam salah satu kitab suci Khonghucu, yaitu Kitab Lee Ki, bagian Gwat Ling, yang berbunyi :
“Hari permulaan tahun (Liep Chun) jadikanlah sebagai Hari Agung untuk bersembahyang besar ke hadirat Thian, karena Maha Besar Kebajikan Thian. Dilihat tiada nampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia… (Tiong Yong XV : 1-5).
(Lihat Hendrik Agus Winarso, Mengenal Hari Raya Konfusiani, [Semarang : Effhar & Dahara Prize, 2003], hal. 60-61).
Penulis buku tersebut lalu menyimpulkan Imlek adalah bagian ajaran Khonghucu. Beliau mengatakan :
“Dengan demikian, menyambut Tahun Baru bagi umat Khonghucu Indonesia mengandung arti ketakwaan dan keimanan.” (ibid.,hal. 61).
Maka tidaklah benar pendapat yang menyebutkan bahwa Imlek hanya sekedar tradisi orang Tionghoa, atau Imlek bukan perayaan agama. Yang benar, Imlek justru adalah bagian ajaran agama Khonghucu, bukan sekedar tradisi.
Lagi pula, harus kami tambahkan bahwa boleh tidaknya seorang muslim melakukan sesuatu, tidaklah dilihat apakah sesuatu itu berasal dari tradisi atau ataukah dari agama. Seakan-akan kalau berasal dari tradisi hukumnya boleh-boleh saja dilakukan, sementara kalau dari agama lain hukumnya tidak boleh.
Standar semacam itu sungguh batil dan tidak ada dalam Islam. Karena standar yang benar menurut Islam, adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah SWT berfirman :
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (QS Al-A’raaf [7] : 3)
Kalimat “maa unzila ilaykum min rabbikum” dalam ayat di atas yang berarti “apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”, artinya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Tafsir Al-Baidhawi, [Beirut : Dar Shaadir], Juz III/2).
Jadi suatu perbuatan itu boleh atau tidak boleh dilakukan, tolok ukurnya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Apa saja yang benar menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, berarti boleh dikerjakan. Sebaliknya apa saja yang batil menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, berarti tidak boleh dilakukan.
Maka kalau kita hendak menilai perbuatan muslim turut merayakan Imlek menurut Islam, tolok ukurnya harus benar. Yaitu harus kita lihat adalah apakah perbuatan itu boleh atau tidak menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, bukan melihat apakah Imlek itu dari tradisi atau dari agama.
Sungguh kalau seorang muslim menggunakan tolok ukur tadi, yaitu melihat sesuatu itu dari tradisi atau agama, ia akan tersesat. Sebab suatu tradisi tidak selalu benar, adakalanya ia bertentangan dengan Islam dan adakalanya sesuai dengan Islam.
Contoh, free sex pada masyarakat Barat yang Kristen. Free sex jelas telah menjadi tradisi Barat, meski perbuatan kotor itu bukan bagian agama Kristen/Katholik, karena agama ini pun mengharamkan zina.
Lalu, apakah karena free sex itu sekedar tradisi, dan bukan agama, lalu umat Islam boleh melakukannya? Jelas tetap tidak boleh, bukan?
Walhasil, mari kita gunakan barometer yang benar untuk menilai suatu perbuatan.
Barometernya, bukan dilihat dari segi asalnya apakah suatu perbuatan itu dari tradisi atau agama, melainkan dilihat dari segi boleh tidaknya perbuatan itu menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah. Inilah pandangan yang haq, tidak ada yang lain.
Haram Atas Muslim Turut Merayakan Imlek
Berdasarkan dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan hari raya agama lain, termasuk Imlek, baik dengan mengikuti ritual agamanya maupun tidak, termasuk juga memberi ucapan selamat Gong Xi Fat Chai. Semuanya haram.
Imam Suyuthi berkata,”Juga termasuk perbuatan mungkar, yaitu turut serta merayakan hari raya orang Yahudi, hari raya orang-orang kafir, hari raya selain orang Arab [yang tidak Islami], ataupun hari raya orang-orang Arab yang tersesat. Orang muslim tidak boleh melakukan perbuatan itu, sebab hal itu akan membawa mereka ke jurang kemungkaran…” (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ‘An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91).
Khusus mengenai memberi ucapan selamat, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata,”Adapun memberi ucapan selamat yang terkait syiar-syiar kekufuran yang menjadi ciri khas kaum kafir, hukumnya haram menurut kesepakatan ulama, misalnya memberi selamat atas hari raya atau puasa mereka...” (Ahkam Ahli Adz-Dzimmah, [Beirut : Darul Kutub Al-‘Ilmiyah], 1995, Juz I/162).
Dalil Al-Qur`an yang mengharamkan perbuatan muslim merayakan hari raya agama kafir di antaranya firman Allah SWT :
“Dan (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah) orang-orang yang tidak menghadiri kebohongan…” (QS Al-Furqan [25] : 72).
Kalimat “laa yasyhaduuna az-zuur” dalam ayat tersebut menurut Imam Ibnu Taimiyah maknanya yang tepat adalah tidak menghadiri kebohongan (az-zuur), bukan memberikan kesaksian palsu.
Dalam bahasa Arab, memberi kesaksian palsu diungkapkan dengan kalimat yasyhaduuna bi az-zuur. Jadi ada tambahan huruf jar yang dibaca bi.
Bukan diungkapkan dengan kalimat yasyhaduuna az-zuur (tanpa huruf jar bi). Maka ayat di atas yang berbunyi “laa yasyhaduuna az-zuur” artinya yang lebih tepat adalah ” tidak menghadiri kebohongan”, bukannya ” memberikan kesaksian palsu.” (M. Bin Ali Adh-Dhabi’i, Mukhtarat min Kitab Iqtidha` Shirathal Mustaqim Mukhalafati Ash-habil Jahim (terj.), hal. 59-60)
Sedang kata “az-zuur” (kebohongan) itu sendiri oleh sebagian tabi’in seperti Mujahid, adh-Dhahak, Rabi’ bin Anas, dan Ikrimah artinya adalah hari-hari besar kaum musyrik atau kaum jahiliyah sebelum Islam (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ‘An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91-95).
Jadi, ayat di atas adalah dalil haramnya seorang muslim untuk merayakan hari-hari raya agama lain, seperti hari Natal, Waisak, Paskah, Imlek, dan sebagainya.
Imam Suyuthi berdalil dengan dua ayat lain sebagai dasar pengharaman muslim turut merayakan hari raya agama lain (Lihat Imam Suyuthi, ibid., hal. 92). Salah satunya adalah ayat :
“Dan sesungguhnya jika kamu [Muhammad] mengikuti keinginan mereka setelah datangnya ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah [2] : 145).
Menurut Imam Suyuthi, larangan pada ayat di atas tidak hanya khusus kepada Nabi SAW, tapi juga mencakup umat Islam secara umum.
Larangan tersebut adalah larangan melakukan perbuatan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh atau orang kafir [seperti turut merayakan hari raya mereka].
Sedangkan yang mereka lakukan bukanlah perbuatan yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya (Lihat Imam Suyuthi, ibid., hal. 92).
Adapun dalil As-Sunnah, antara lain Hadits Nabi SAW,“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Dawud).
Dalam hadits ini Islam telah mengharamkan muslim untuk menyerupakan dirinya dengan kaum kafir pada hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka, seperti hari-hari raya mereka.
Maka dari itu, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan hari-hari raya agama lain (Lihat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penjelasan Tuntas Hukum Seputar Perayaan, [Solo : Pustaka Al-Ummat], 2006, hal. 76).
Berdasarkan dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah di atas, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan Imlek dalam segala bentuk dan manifestasinya.
Haram bagi muslim ikut-ikutan mengucapkan Gong Xi Fat Chai kepada orang Tionghoa, sebagaimana haram bagi muslim menghiasi rumah atau kantornya dengan lampion khas Cina, atau hiasan naga dan berbagai asesoris lainnya yang serba berwarna merah.
Haram pula baginya mengadakan berbagai macam pertunjukan untuk merayakan Imlek, seperti live band, karaoke mandarin, demo masak, dan sebagainya.
Semua bentuk perbuatan tersebut haram dilakukan oleh muslim, karena termasuk perbuatan merayakan hari raya agama kafir yang telah diharamkan Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Himbauan Kepada Muslim Etnis Tionghoa
Terakhir, kami sampaikan seruan dan himbauan kepada saudara-saudaraku muallaf dari etnis Tionghoa, hendaklah Anda masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhannya (kaffah).
Janganlah Anda -semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda semua- mengikuti langkah-langkah setan, yakni masuk ke dalam agama Islam namun masih mempertahankan sebagian ajaran lama yang dulu Anda peluk dan Anda amalkan, seperti perayaan Imlek. Marilah kita renungkan firman Allah SWT :
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah [2] : 208)
Wallahu a’lam bi al-shawab.

Yang Tidak Mudah Dalam Dakwah

Oleh: Abay Abu Hamzah
Yang tidak mudah dalam perjuangan adalah, bersabar ketika kemenangan belum kunjung tiba.
Banyak yang terpelanting pada tahapan ini…
Semoga kita istiqamah.
Yang tidak mudah dalam perjuangan adalah, bersabar manakala kita senantiasa dituntut untuk mengoptimalkan dakwah, sementara belitan hidup melilit dari segala arah.
Yang tidak mudah dalam perjuangan adalah, manakala kita meyakini apa yang diperjuangkan, sementara ada figur-figur dalam jamaah yang membuat komitmen kita melemah.
Meski begitu, semoga kita istiqamah.
Yang tidak mudah dalam perjuangan adalah, manakala kita telah mempersembahkan yang terbaik, namun tidak ada yang menghargainya.
Meski begitu, semoga kita istiqamah.
Yang tidak mudah dalam perjuangan adalah, manakala kita merasa benar, namun semua pihak menganggap kita salah.
Meski begitu, semoga kita tetap istiqamah.
Yang tidak mudah dalam perjuangan adalah, manakala berharap ada kawan berjuang, sementara tidak satupun diutus untuk menemani kita.
Ingatlah, bahwa berdakwah bukanlah minta ditemani, melainkan mencari teman untuk bersama berdakwah. (insprd: Adi Wijaya)
Yang tidak mudah dalam perjuangan adalah, manakala ide dan komitmen mulai tergerus oleh interaksi yang keliru, sementara tidak ada kawan tempat bersandar.
Maka bersandarlah pada Allah…

Yang tidak mudah dalam perjuangan adalah, saat diri jauh dari sahabat seperjuangan di tanah air, sementara jiwa belum sekuat Mush’ab bin Umair

Permuda Dulu, Kini dan Nanti

[Pengantar]

Pemuda, ditangannyalah lahir sebuah perubahan..
Lalu siapakah pemuda?

Menurut kamus besar Bahasa Indonesi, Pemuda adalah orang yg masih muda; orang muda: -- harapan bangsa; orang muda laki-laki; remaja; teruna: para -- ini akan menjadi pemimpin bangsa
 Tak kalah menarik dengan definisi yang diberikan oleh beberapa ahli seperti yang dipaparkan oleh Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus Webstersnya sebagai “the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”.
Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10 – 24 tahun sebagai young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10 -19 tahun. Contoh lain di Canada dimana negara tersebut menerapkan bahwa “after age 24, youth are no longer eligible for adolescent social services
Definisi yang berbeda ditunjukkan oleh Alquran. Dalam kaidah bahasa Qurani pemuda atau yang disebut “asy-syabab”didefinisikan dalam ungkapan sifat dan sikap seperti:
1. berani merombak dan bertindak revolusioner terhadap tatanan sistem yang rusak. Seperti kisah pemuda (Nabi) Ibrahim. “Mereka berkata: ‘Siapakah yang (berani) melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Se­sungguhnya dia termasuk orang orang yang zalim, Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang (berani) mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (QS.Al­-Anbiya, 21:59-60).
2. memiliki standar moralitas (iman), berwawasan, bersatu, optimis dan teguh dalam pendirian serta konsisten dalam dengan perkataan. Seperti tergambar pada kisah Ash-habul Kahfi (para pemuda penghuni gua).“Kami ceritakan kisah me­reka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda.pe­muda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah­kan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka mengatakan: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, se­sungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran” (QS.18: 13-14).
3. seorang yang tidak berputus-asa, pantang mundur sebelum cita-citanya tercapai. Seperti digambarkan pada pribadi pemuda (Nabi) Musa. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai kepertemuan dua buah lautan; atau aku akan ber­jalan sampai bertahun-tahun” (QS. Al-Kahfi,18 : 60).
Jika kita telusik bagaimana keadaan pemuda dulu, kini, dan nanti yang akan menjadi tonggak perubahan??

To be continued ..

Ketika Sistem Anda Gagal – Pertimbangkan Kembali Landasannya

Oleh : Junes Kock
Perwakilan Media Hizbut Tahrir Skandinavia
Bank Nasional Denmark sedang berjuang untuk menyelamatkan mata uang krone Denmark. Hari ini pada tanggal 5 Februari, suku bunga turun sebesar -0,75%, yang tidak hanya terendah sepanjang masa, tetapi juga terendah di dunia bersama-sama dengan Swiss, dan tampaknya mungkin bahkan akan lebih rendah lagi. Pada saat yang sama, Bank Nasional Denmark meningkatkan cadangan Euro untuk berjuang melawan para spekulan yang membeli krone tersebut.
Jika pertempuran melawan spekulan kalah, ini akan menyebabkan pukulan yang menghancurkan bagi perekonomian Denmark.
Komentar
Di Eropa, ada perjuangan yang hampir permanen untuk menghindari krisis keuangan, dan Bank Sentral Eropa (EBC) baru-baru ini mencoba untuk mendevaluasi Euro dan menurunkan tingkat suku bunga untuk menjaga agar roda ekonomi tetap berjalan. Perjuangan ini seharusnya memiliki dampak positif bagi para anggota serikat moneter, tetapi dapat juga merusak negara-negara lain, dimana Denmark benar-benar merasakannya hari ini.
Ketika banyak mata uang negara Eropa berubah menjadi Euro, Denmark terus mempertahankan mata uang nasionalnya, krone, tetapi membuat nilai tukar tetap dengan mata uang Euro pada saat sekarang ini berpotensi membahayakan. Memperbaiki krone Denmark untuk Euro berarti bahwa Bank Nasional Denmark harus mendevaluasi krone dengan Euro dengan cara membeli Euro dan menurunankan suku bunga. Fakta bahwa perekonomian Denmark relatif stabil, telah dinodai oleh para investor besar dan para spekulan mata uang yang sekarang membeli krone Denmark dalam jumlah besar. Hal ini membuat naiknya nilai mata uang dan pertempuran mata krone yang dahsyat pada hari ini.
Jika spekulan menang, Bank Nasional harus meninggalkan nilai tukar tetap dengan mata uang Euro, yang baru-baru ini terjadi dengan Franc Swiss. Hal itu berarti keuntungan bagi para spekulan, tetapi mata uang yang kuat hari ini juga berarti menurunannya daya saing, kehilangan ekspor, kehilangan produksi dan meningkatnya pengangguran, dan akhirnya situasi ini akan lebih buruk dari sekarang.
Masalah seperti ini melekat dalam sistem ekonomi kapitalis. Semua upaya mereka untuk keluar dari krisis sudah ditakdirkan untuk gagal, karena mereka mendasarkan pada sistem cacat yang sama. Mereka gagal, atau bahkan menghindari untuk memeriksa alasan terjadinya krisis dan terfokus pada gejala sebaliknya. Semua fluktuasi mata uang dan akibatnya harus memaksa peninjauan kembali suatu alternatif bagi uang kertas fiat yang tidak stabil ini. Satu-satunya cara untuk mendapatkan mata uang yang stabil adalah dengan kembali ke Standar Emas.
Satu-satunya sistem pemerintahan yang secara tegas menekankan pada Standar Emas adalah sistim ekonomi Islam yang diterapkan oleh Negara Islam (Khilafah). Dalam Islam, ditetapkan standar ganda logam dengan emas dan perak. Bukan mata uang fiat yang akan dikeluarkan oleh negara, dan mata uang kertas harus didukung 100%. Ini hanya bagian dari sistem ekonomi Islam, yang merupakan satu-satunya sistem yang memiliki pandangan yang benar terhadap perekonomian dan hubungan antara kepemilikan, individu dan negara. Ini adalah satu-satunya sistem yang dalam prakteknya, dapat menjamin distribusi yang adil dari harta kekayaan dan pada saat yang sama memastikan kemajuan.
Krisis saat ini dan pencarian solusi tidak hanya harus berakhir dengan ekonomi alternatif. Karena ekonomi adalah faktor yang paling penting dalam ideologi kapitalistik, krisis dan kekurangan bahkan harus mendorong orang-orang di barat untuk mempertimbangkan kembali seluruh dasar pandangan mereka pada kehidupan. Islam datang sebagai rahmat bagi umat manusia; bukan sebagai filsafat atau metafisika, tapi satu solusi praktis sebagai akibat dari aqidah dan sistem Islam, yang dapat diuji dan dirasakan oleh semua manusia.
((قد فصلنا الآيات لقوم يفقهون))
“Kami telah menjelaskan tanda-tanda bagi orang-orang yang mengerti” [QS Al-‘An’am, 6:98]
Ditulis untuk Kantor Pusat Media Hizbut Tahrir oleh
Junes Kock
Perwakilan Media Hizbut Tahrir Skandinavia
28 Rabi ‘II 1436 H
16/02/2015
==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Profile Amir Hizbut Tahrir: http://bit.ly/133rkTd
Jika Saudara/i ingin mengkaji Islam dan berdakwah bersama HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan mengisi form yang kami sediakan dibit.ly/gabungHTI
Insya Allah, syabab Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi anda. (jika lebih dari 2 minggu, saudara/i bisa memberitahukan lewat pesan inbox)
==============================
Website : www.hizbut-tahrir.or.id
Youtube : http://www.youtube.com/htiinfokom
Google+ : https://plus.google.com/+HizbuttahrirOrIdOfficial
Facebook : https://www.facebook.com/Htiinfokom
Twitter : https://twitter.com/hizbuttahrirID
===============================