Sabtu, 21 Februari 2015

Merenangi Kehidupan

Oleh: Abay Abu Hamzah
Ceritanya, ada seorang perenang nasional yang ingin menyeberangi sungai Barito yang lebarnya 900 m. Ia sudah menyiapkan segala perlengkapannya: pakaian renang, dan dua orang temannya untuk menyambut di kedua sisi sungai.
Upaya menyeberangi Sungai Barito dimulai. Ia melompat ke air sungai yang cukup deras itu, lalu berenang dengan mudahnya.
Meter demi meter ia lewati. Sepuluh, dua puluh, lima puluh, seratus meter, ia tempuh dengan mudah. Ia masih sempat melambaikan tangan kepada kawan di tepi keberangkatannya.
Memasuki meter ke lima ratus, ia mulai merasa lelah. Namun, ia masih terus berusaha melanjutkan penyeberangannya.
Memasuki meter ke tujuh ratus, napasnya semakin tersengal, kayuhan tangannya kian lemah. Namun lagi-lagi, ia pantang menyerah. Ia meneruskan penyeberangannya.
Memasuki meter delapan ratus, ia mulai menyerah, meski begitu ia terus melaju. Jarak seratus meter yang tersisa, terasa begitu jauh di matanya yang berkunang-kunang.
Tepat di meter ke 890, ia benar-benar tidak sanggup lagi untuk melanjutkan penyeberangan. Padahal tepi sungai tinggal sepuluh meter lagi.
Karena tidak sanggup meneruskan penyeberangan, ia memutuskan kembali, berbalik arah, dan berenang ke tepian sungai tempat ia memulai penyeberangan.
***
Kisah itu tentu tidak benar-benar terjadi. Hanya saja, saya sajikannya agar bisa membagi inspirasi.
Apa pendapat Anda tentang perenang ini? Sepertinya kata konyol akan keluar dari mulut Anda. Betul? Atau mungkin kata lain yang semakna lah. Atau paling tidak di dalam hati.
Dan benar, perenang itu memang konyol. Bukankah tepian ujung tinggal sepuluh meter, mengapa hanya karena merasa tidak kuat lagi, dia memilih untuk kembali ke tepian sungai tempat dia berangkat, yang jaraknya 890 meter? Bukankah itu konyol?
***
Dan, bukankah kita menyadari bahwa perjalanan waktu akan mengantarkan kita ke ujung perjuangan?
Jika kita ibaratkan tepi keberangkatan si perenang adalah masa kelam kita, dan tepi tujuan adalah husnul-khatimah kita, bukankah konyol jika mundur ke belakang, meninggalkan perjuangan, dan kembali pada kondisi awal sebelum kita berjuang. Bukankah itu lebih konyol?

Jika kita menyadari bahwa semakin hari umur kita semakin menuju penghujungnya, seharusnyalah kita meyakini bahwa perjalanan kita akan segera berakhir. Seharusnyalah kita meneruskan perjuangan hingga ke ujungnya. Pantang berhenti, apalagi mundur ke belakang..