Oleh: Abay Abu Hamzah
Ceritanya, ada seorang perenang nasional yang ingin
menyeberangi sungai Barito yang lebarnya 900 m. Ia sudah menyiapkan segala
perlengkapannya: pakaian renang, dan dua orang temannya untuk menyambut di
kedua sisi sungai.
Upaya menyeberangi Sungai Barito dimulai. Ia melompat ke air sungai yang cukup
deras itu, lalu berenang dengan mudahnya.
Meter demi meter ia lewati. Sepuluh, dua puluh, lima
puluh, seratus meter, ia tempuh dengan mudah. Ia masih sempat melambaikan
tangan kepada kawan di tepi keberangkatannya.
Memasuki meter ke lima ratus, ia mulai merasa lelah.
Namun, ia masih terus berusaha melanjutkan penyeberangannya.
Memasuki meter ke tujuh ratus, napasnya semakin
tersengal, kayuhan tangannya kian lemah. Namun lagi-lagi, ia pantang menyerah.
Ia meneruskan penyeberangannya.
Memasuki meter delapan ratus, ia mulai menyerah, meski
begitu ia terus melaju. Jarak seratus meter yang tersisa, terasa begitu jauh di
matanya yang berkunang-kunang.
Tepat di meter ke 890, ia benar-benar tidak sanggup
lagi untuk melanjutkan penyeberangan. Padahal tepi sungai tinggal sepuluh meter
lagi.
Karena tidak sanggup meneruskan penyeberangan, ia
memutuskan kembali, berbalik arah, dan berenang ke tepian sungai tempat ia
memulai penyeberangan.
***
Kisah itu tentu tidak benar-benar terjadi. Hanya saja,
saya sajikannya agar bisa membagi inspirasi.
Apa pendapat Anda tentang perenang ini? Sepertinya
kata konyol akan keluar dari mulut Anda. Betul? Atau mungkin kata lain yang
semakna lah. Atau paling tidak di dalam hati.
Dan benar, perenang itu memang konyol. Bukankah tepian
ujung tinggal sepuluh meter, mengapa hanya karena merasa tidak kuat lagi, dia
memilih untuk kembali ke tepian sungai tempat dia berangkat, yang jaraknya 890
meter? Bukankah itu konyol?
***
Dan, bukankah kita menyadari bahwa perjalanan waktu
akan mengantarkan kita ke ujung perjuangan?
Jika kita ibaratkan tepi keberangkatan si perenang
adalah masa kelam kita, dan tepi tujuan adalah husnul-khatimah kita, bukankah
konyol jika mundur ke belakang, meninggalkan perjuangan, dan kembali pada
kondisi awal sebelum kita berjuang. Bukankah itu lebih konyol?
Jika kita menyadari bahwa semakin hari umur kita
semakin menuju penghujungnya, seharusnyalah kita meyakini bahwa perjalanan kita
akan segera berakhir. Seharusnyalah kita meneruskan perjuangan hingga ke
ujungnya. Pantang berhenti, apalagi mundur ke belakang..